CUCU PENDIRI KRATINGDAENG KINI JADI BURONAN INTERPOL
Cucu pemilik perusahaan minuman energi Krating daeng atau dikenal dengan merek Red Bull itu kabur dari proses hukum kasus tabrak lari yang menyebabkan seorang polisi di Negeri Gajah Putih tewas lima tahun yang lalu. Polisi Internasional (Interpol) memasukkan nama pengusaha Thailand Vorayuth Yoovidhya ke dalam daftar buronan (red notice). Aparat penegak hukum di seluruh dunia sudah bisa mengakses data itu sejak akhir Agustus lalu. Red Notice adalah permintaan dari Interpol kepada lembaga kepolisian di seluruh dunia buat mencari dan menahan buronan serta melakukan ekstradisi.
Kasus tabrak lari yang dilakukan Vorayuth terjadi pada tahun 2012 di Ibukota Bangkok. Lelaki yang dijuluki "Boss" itu ngebut dengan mobil Ferrari miliknya dan menabrak seorang polisi Thailand sedang berpatroli, Wichian Klanprasert, hingga tewas. Setelah itu Vorayuth kabur. Vorayuth mulanya dijerat dengan tiga sangkaan. Namun karena dia terus menghindar dari polisi, kini aparat cuma mengusut satu perkara. Sebab penyidikan kasus berkendara dengan kecepatan tinggi di jalan raya disangkakan kepada Vorayuth sudah kadarluwarsasejak empat tahun lalu, sedangkan delik tabrak lari juga habis tempo awal September 2017. Sedangkan kasus terakhir Vorayuth yakni mengemudi ugal-ugalan menyebabkankematian bakal jatuh waktu dalam sepuluh tahun.
Keluarga Vorayuth menguasai lebih dari separuh kekayaan perusahaan Krating Daeng atau Red Bull. korporasi itu dibangun oleh sang kakek, Chaleo Yoovidhya. Mulanya Chaleo adalah penjual obat dan memutuskan mendirikan perusahaan obat-obatan sendiri, TC Pharmaceuticals pada awal 1960-an. 16 tahun kemudian dia meluncurkan produk minuman berenergi Krating daeng. Produk itu kemudian dijual di eropa oleh pengusaha Dietrich Mateschitz dengan merek Red Bull. Bisnis mereka pun berkembang dengan memiliki rumah sakit mewah, Piyavate Hospital, dan juga membuka gerai Ferrari di Thailand.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.