Tuesday, October 17, 2017

3 Tahun, Sektor Pariwisata Behasil Menjadi Lima Besar Penyumbang Tertinggi Di ASEAN

 3 Tahun, Sektor Pariwisata Behasil Menjadi Lima Besar Penyumbang Tertinggi Di ASEAN 

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan selama tiga tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, sektor pariwisata cukup menggembirakan. Pasalnya, sektor pariwisata berhasil menjadi lima besar kontributor devisa.

Selain itu, pariwisata juga mampu menjadi kontributor Produk Domestik Bruto (PDB) dan tenaga kerja. Inilah salah satu bukti bahwa pariwisata di Indonesia berkembang pesat baik di dalam maupun luar negeri.

"Pariwisata peringkat keempat dalam hal kontributor devisa nasional, sebesar 9,3 persen, dengan pertumbuhan pendapatan devisa tertinggi sebesar 13 persen, biaya pemasaran hanya 2 persen dari nilai tukar yang diproyeksikan," kata Arief di Kantor Staf Kepresidenan, Selasa .

Di sisi lain, pariwisata menyumbang 10 persen dari PDB nasional dan merupakan nominal tertinggi di ASEAN. Pertumbuhan PDB pariwisata berada di atas rata-rata industri dengan membelanjakan USD 1 Juta atau PDB 170 persen, tertinggi di industri ini.

Selain itu, sektor pariwisata menyumbang 9,8 juta lapangan kerja, atau 8,4 persen. Ketenagakerjaan tumbuh 30 persen dalam 5 tahun. Pencipta lowongan pekerjaan termurah adalah USD 5.000 per pekerjaan.

Sektor pariwisata nasional kini menjadi primadona baru bagi pembangunan nasional. Kontribusi devisa dan lapangan kerja di sektor ini sangat signifikan bagi devisa negara. Padahal, diperkirakan hingga 2019 sudah mengalahkan pendapatan devisa dari industri kelapa sawit (CPO).

Devisa dari sektor pariwisata pada 2016 sebesar USD 13,568 miliar berada di posisi kedua setelah CPO USD 15,965 miliar. Pada 2015, devisa dari sektor pariwisata sebesar USD 12,225 miliar atau berada di posisi keempat di bawah minyak dan gas USD 18,574 miliar, CPO USD 16,427 miliar, dan batu bara Rp 14,717 miliar.

"Pada 2019, industri pariwisata diproyeksikan sebagai penghasil devisa terbesar di Indonesia, yaitu USD 24 miliar, di luar sektor minyak dan gas bumi, batubara dan kelapa sawit. Dampak devisa secara langsung dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. , "jelasnya.

Tidak hanya itu, Arief juga menargetkan pada 2019, pariwisata Indonesia menjadi yang terbaik di kawasan ini, bahkan di luar ASEAN.

"Pesaing utama kami adalah Thailand dengan devisa pariwisata lebih dari USD 40 miliar, sementara negara lain relatif mudah dikalahkan. Merek Branding Wonderful Indonesia yang semula tidak berprestasi di dunia, pada 2015 membidik lebih dari 100 peringkat ke peringkat 47. , mengalahkan merek dagang negara Truly Asia Malaysia (peringkat 96) dan country branding Amazing Thailand (peringkat 83) Country branding Wonderful Indonesia mencerminkan Positioning and Differentiating Tourism of Indonesia. "

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.