Jokowi: 80 Persen Guru Di SMK Hanya Normatif
Presiden Joko Widodo mengungkapkan tiga hal penting yang harus dilakukan dalam waktu singkat. Ini berkaitan dengan pendidikan kejuruan vokasi, pelatihan kejuruan, dan politeknik.
Menurut Jokowi, ini sangat mendesak karena 60 persen lebih banyak angkatan kerja Indonesia adalah lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
"Sejumlah besar jika ingin upgrade dengan cara latihan kejuruan," kata Presiden Jokowi dalam sambutannya di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI), di Jakarta Convention Center (Jakarta), Jakarta, Selasa (28/11).
Memperbaiki kondisi, pendidikan di SMK menurut Jokowi butuh reformasi besar. Karena 80 persen guru di sekolah kejuruan hanya bersifat normatif. Untuk membuat tenaga kerja terampil, guru SMK harus memiliki keterampilan, guru yang bisa menjadi pelatih untuk anak-anak.
"Tapi banyak guru yang normatif, guru PPKN, Bahasa Indonesia, Agama, seperti itu belum tentu, tapi perlu, tapi kalau SMK harus menjadi guru yang bisa melatih, meningkatkan kemampuan anak-anak kita," katanya.
Ke depan, pendidikan di Indonesia harus benar-benar non normatif, karena tantangan yang berbeda. "Harus diajari tantangan yang ada, masalah yang ada, bukan rutinitas ini terus berlanjut," katanya.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.